Keputusan pemerintah untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memang menimbulakan kontrofersi. Kenaikan harga BBM tentunya akan berdampak pada berbagai sektor. Sektor pangan dalam hal ini harga sembako merupakan salah satu yang paling merasakan imbas dari kenaikan harga BBM. Akibatnya harga kebutuhan rumah tangga pun melambung tinggi. Meskipun pemerintah berencana menaikan harga BBM pada tanggal 1 April, kenaikan harga kebutuhan rumah tangga sudah mulai dirasakan. Masyarakat kalangan menengah ke bawah lah yang lagi-lagi paling merasakan dampak dari kenaikan harga ini. Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah pun dinilai belum dapat menyelesaikan masalah ini, bahkan dirasa seperti menjadikan masyrakat kalangan bawah tak ubahnya seperti "pengemis" yang menunggu belas kasihan orang lain. Ditengah kondisi dimana banyak rakyat Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, para pejabat yang tak bermoral, dan budaya korupsi yang semakin membudaya, keputusan pemerintah untuk menaikan harga BBM memang sangat menyakitkan.
Dari sudut pandang ekonomi, keputusan menaikan harga BBM ini memang dinilai masih tepat karena untuk mendukung kondisi APBN negara yang kurang sehat. Secara idealis, kenaikan harga BBM sangat tidak diharapkan. Akan tetapi menaikan harga BBM dapat menjadi solusi untuk menyembuhkan APBN negara yang sedang sakit. Mungkin jika keputusan ini tidak diambil, bahaya besar akan mengganggu kondisi negara kita.
Jika kita cermati kenaikan harga BBM sudah seperti menjadi agenda tahunan. Setiap lima tahun sekali harga BBM pasti naik. Lucunya ketika BBM naik yang menyampaikan kenaikan harga kepada publik bukan presiden secara langsung, namun ketika harga BBM turun presiden lah yang mendaji paling depan untuk menyampaikan beritanya. Penurunan harga BBM ini pun tidak serta merta langsung diumumkan, namun ditahan dulu hingga menjelang Pemilu kemudian baru diumumkan kepada publik. Tak dapat dipungkiri, harga BBM memang sarat dengan politisasi dan kepentingan.
Terlepas dari harga BBM naik atau tidak, yang paling penting adalah reformasi sektor energi. BPMIGAS yang merupakan BUMN seperti dianak-tirikan di negeri sendiri. Dominasi asing memang sangat kuat. Jika kita lihat di kota-kota besar, banyak SPBU milik asing yang menjual bahan bakar minyak. Dulu ketika subsidi BBM masih ada, SPBU milik asing tidak memiliki banyak pembeli karena harganya mahal. Namun sekarang ketika subsidi dicabut, perbedaan antara SPBU milik negara dengan milik asing semakin tidak ada. Posisi SPBU asing dalam negeri semakin kuat. Mereka mengambil minyak di temapat kita, menjual pun di temapat kita. BPMIGAS pun tak ubahnya macan ompong di kandangnya.
Tuntutan reformasi sektor energi sudah lama digembor-gemborkan, namun pemerintah seolah-olah mengacuhkan hal ini. Banyak hal yang harus dibenahi di sektor energi sebelum mengambil keputusan menaikan harga BBM. Masalah transparansi, kebijakan terkait energi telah menuntut untuk adanya perbaikan. Jika hal ini tak kunjung dilakukan oleh pemerintah, berarti benar memang jika pemerintah lebih senang memberikan subsidi kepada kapitalis asing ketimbang memberikan subsidi kepada rakyatnya.


